Candi Brahu merupakan salah satu candi peninggalan Buddha di Indonesia yang berada pada Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi Brahu berada tepat didepan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur di jalan raya Mojokerto-Jombang. Candi ini diperkirakan didirikan sekitar abad 15 Masehi.

Candi Brahu

Diduga bahwa Candi Brahu merupakan candi yang lebih tua dibandingkan dengan candi lainnya di Trowulan. Nama Brahu pada candi tersebut dikaitkan dengan kata ‘Wanaru’ atau ‘Warahu’ yang disebutkan dalam prasasti tembaga bahwa merupakan nama sebuah bangunan suci. Prasasti tembaga tersebut adalah Alasantan yang ditemukan sekitar 45 meter barat Candi Brahu. Prasasti tersebut diduga dibuat sekitar 939 Masehi atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Berdasarkan masyarakat sekitar, konon bahwa Candi Brahu ini digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengatakan bahwa Candi Brahu tidak menunjukkan jejak adanya abu atau mayat.

Candi Brahu terbuat dari bata merah, namun berbeda dengan candi yang lainnya dimana bentuk tubuh dari candi ini tidak tegas persegi melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah dari tubuh candi ini melekuk ke arah dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Selain itu, atap dari candi ini berbeda dengan candi lainnya dimana bentuknya tidak seperti prisma bersusun atau persegi empat, akan tetapi memiliki banyak sudut dengan puncaknya yang datar.

Candi Brahu memiliki kaki candi dua susun. Susun bagian bawah memiliki tinggi sekitar 2 meter. Pada susun bagian bawah ini memiliki tangga pada sisi barat yang mengarah ke selasar dengan lebar sekitar 1 meter mengelilingi tubuh candi. Bagian selasar pertama memiliki tangga dengan tinggi sekitar 2 meter mengarah ke selasar kedua. Pada bagian atas selasar kedua terdapat tubuh candi. Sisi barat candi terdapat lubang seperti pintu di ketinggian sekitar 2 meter dari selasar kedua. Pada bagian kaki, tubuh dan atap candi tidak terdapat hiasan berupa ukiran atau relief. Akan tetapi, susunan bata pada kaki, dinding tubuh dan atap candi sangat unik karena diatur dengan sedemikian rupa sehingga membentuk gambar berpola geometris yang indah.

Diketahui bahwa Candi Brahu pernah dipugar pada tahun 1990-1995. Menurut masyarakat sekitar, konon katanya terdapat beberapa candi lain didekat Candi Brahu ini, namun saat ini sudah tidak terlihat.


Referensi


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *